Lampung Mulai Modifikasi Cuaca, 800 Kg Garam Disebar Tekan Karhutla

Bandar Lampung – Pemerintah Provinsi Lampung mulai menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menghadapi ancaman kekeringan sekaligus membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK).

Operasi perdana berlangsung Rabu (26/8/2026). Pesawat OMC lepas landas dari Bandara Radin Inten II pada pukul 12.06 WIB dan kembali mendarat sekitar pukul 13.23 WIB dengan membawa 800 kilogram garam sebagai bahan penyemaian awan.

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan pelaksanaan OMC menjadi bagian dari upaya pemerintah merespons kondisi cuaca kering yang terjadi di sejumlah wilayah Lampung.

Menurutnya, program tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu membasahi kawasan yang terdampak karhutla, tetapi juga mendorong peningkatan curah hujan di daerah yang mulai mengalami kekurangan air.

“Atas atensi Bapak Presiden agar bisa dilakukan OMC, dan dipantau BMKG, kondisi cuaca cukup mendukung sehingga pesawat sudah bisa melakukan take off,” ujar Jihan.

Ia menyebut Lampung Tengah dan Lampung Timur menjadi sejumlah wilayah yang mendapat perhatian dalam operasi tersebut. Selain membantu penanganan hotspot, hujan yang dihasilkan diharapkan dapat menjaga ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian.

“OMC hari ini bukan hanya membantu kebakaran, tetapi juga kekeringan. Ada beberapa daerah yang hari ini menjadi sasaran, di antaranya Lampung Tengah dan Lampung Timur,” katanya.

Jihan berharap operasi modifikasi cuaca memberikan dampak langsung bagi masyarakat yang mulai menghadapi keterbatasan air.

“Semoga ini bisa bermanfaat, selain membantu membasahi titik hotspot, juga membantu pertanian yang membutuhkan air,” ujarnya.

OMC Berlangsung hingga 30 Agustus

Kepala Pelaksana BPBD Lampung Rudy Sjawal Sugiarto mengatakan operasi OMC perdana mendapat dukungan pelaksanaan hingga 30 Agustus 2026.

Tim akan mengoptimalkan operasi untuk meningkatkan debit air, terutama pada waduk yang mulai mengalami penyusutan akibat kondisi cuaca kering.

“OMC pertama ini dukungannya sampai tanggal 30. Kita akan maksimal meningkatkan debit air dan waduk yang sudah mengalami kekeringan, seperti di Lampung Tengah dan Lampung Selatan yang kondisinya sudah cukup mengkhawatirkan,” jelas Rudy.

Selain waduk, tim juga akan memantau wilayah lain yang berpotensi memiliki pertumbuhan awan hujan. Penentuan lokasi penyemaian akan menyesuaikan kondisi atmosfer dan perkembangan awan secara langsung.

Awan Hujan Jadi Tantangan

Prakirawan BMKG Lampung Tito mengatakan tantangan terbesar dalam operasi perdana ini adalah terbatasnya pertumbuhan awan yang memenuhi syarat untuk disemai.

Pada penerbangan pertama, tim memantau kawasan Lampung Timur yang berbatasan dengan Lampung Selatan. Di wilayah tersebut terdapat sejumlah hotspot dengan kategori sedang hingga tinggi.

“Pertama di daerah Lampung Timur yang berbatasan dengan Lampung Selatan. Di sana ada hotspot titik sedang hingga tinggi. Sekarang kita cukup sulit memilih awan untuk disemai karena potensi awannya sedikit,” kata Tito.

Meski begitu, setiap kali menemukan awan yang dinilai memenuhi kriteria, pesawat langsung diarahkan untuk melakukan penyemaian.

“Tadi ketika ada awan, langsung kami ke sana dengan harapan bisa langsung terjadi hujan,” ujarnya.

Tito menjelaskan pemantauan tidak berhenti di satu wilayah. Hingga siang dan sore, tim akan terus mengamati perkembangan awan di sejumlah daerah, termasuk Lampung Barat, Lampung Tengah dan Lampung Utara.

“Take off pukul 12.06 WIB. Kemudian siang hingga sore, awan yang memiliki potensi akan coba kita semai di Lampung Barat, Lampung Tengah dan Lampung Utara, sambil melihat kondisi hotspot yang ada,” jelasnya.

BMKG mengingatkan tidak semua awan dapat menjadi sasaran OMC. Penyemaian membutuhkan awan dengan karakteristik tertentu agar memiliki peluang menghasilkan hujan.

Karena itu, pelaksanaan OMC akan terus menyesuaikan dinamika cuaca secara real time. Selain memantau hotspot karhutla, tim juga memprioritaskan wilayah yang mengalami kekeringan, membutuhkan pasokan air tinggi, serta kawasan waduk yang debitnya mulai menurun.

Dengan strategi tersebut, OMC diharapkan dapat menjadi salah satu langkah cepat pemerintah dalam menghadapi ancaman karhutla sekaligus menjaga ketersediaan air selama periode kemarau.