Bandar Lampung – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menyiapkan inovasi pembelajaran melalui program Double Teaching. Program ini dirancang untuk meningkatkan keaktifan siswa sekaligus mendorong kolaborasi antarguru di dalam kelas.
Kepala Disdikbud Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengatakan program tersebut akan lebih dahulu diterapkan di sejumlah sekolah unggulan di Bandar Lampung. Peluncuran program dijadwalkan pada 21 September 2026.
Thomas menjelaskan, program Double Teaching akan melibatkan tiga guru mata pelajaran yang nantinya dapat mengajar secara bersama-sama dalam satu kelas. Metode tersebut diharapkan membuat proses pembelajaran lebih dinamis dan saling melengkapi.
“Guru satu dengan yang lainnya bisa saling melengkapi, kemudian bisa berbagi ilmu. Ini supaya terjadi keaktifan proses belajar di dalam kelas,” kata Thomas.
Ia mengatakan penerapan Double Teaching belum dapat dilakukan di seluruh kelas karena keterbatasan jumlah guru. Karena itu, pelaksanaannya akan dimulai secara bertahap dengan memilih sejumlah sekolah sebagai tahap awal.
Adapun tiga mata pelajaran yang menjadi fokus program tersebut yakni Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Thomas menyebut ketiganya dipilih karena merupakan mata pelajaran inti yang menjadi dasar kemampuan akademik siswa.
“Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Itu dulu sementara, karena kita bertahap,” ujarnya.
Menurut Thomas, pola pembelajaran tersebut tidak selalu berarti tiga guru berada di dalam satu kelas secara bersamaan. Dalam penerapannya, satu kelas dapat melibatkan dua guru untuk memberikan materi secara kolaboratif sesuai kebutuhan pembelajaran.
Selain mendorong inovasi di ruang kelas, Thomas juga meminta para siswa di Lampung memiliki keberanian untuk menetapkan cita-cita yang tinggi. Menurutnya, mimpi tersebut harus disertai target, pola pikir produktif, lingkungan pergaulan yang positif, serta daya juang.
“Saya minta semua anak-anak di Lampung ini punya mimpi yang tinggi, punya target, punya mindset produktif, punya circle yang positif, sehingga mereka punya cita-cita. Tapi harus juga punya daya juang dan kesiapan,” katanya.
Thomas menegaskan kesiapan menjadi salah satu kunci untuk mewujudkan cita-cita. Karena itu, pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kemampuan siswa menghadapi tantangan.
“Kalau dia siap, tentu apa yang dicitakan bisa berhasil. Nah, ini yang kita dorong,” pungkasnya.
