Karhutla Kembali Kepung TN Way Kambas, 802,7 Hektare Lahan Terbakar

  1. Bandar Lampung – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dalam beberapa hari terakhir. Hingga 24 Agustus 2026, total lahan yang terbakar mencapai sekitar 802,7 hektare.

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan, kebakaran pertama terjadi pada 21 Agustus 2026 di wilayah Desa Braja Harjosari. Api membakar lahan seluas sekitar 673,54 hektare.

 

“Api berhasil dipadamkan pada 22 Agustus melalui operasi gabungan yang melibatkan sekitar 250 personel,” ujar Zaidi saat Rapat Koordinasi di BPBD Lampung, Rabu (26/8/2026).

 

Menurut Zaidi, sebagian besar kawasan yang terbakar merupakan lahan alang-alang. Kebakaran tidak menyasar hutan primer maupun hutan sekunder.

 

Selanjutnya, kebakaran kembali muncul pada 23 Agustus di wilayah Desa Braja Kencana dan Braja Luhur. Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 123,1 hektare.

 

Tim TNWK bersama TNI, Polri dan unsur terkait langsung melakukan penanganan. Upaya pemadaman dari udara juga dikerahkan untuk membantu mengendalikan api.

 

Zaidi menyebut operasi water bombing telah dilakukan sebanyak 17 kali. Upaya tersebut akan dilanjutkan dengan pendinginan guna mengantisipasi munculnya kembali titik api.

 

“Untuk hari berikutnya, water bombing akan kita manfaatkan di kawasan-kawasan yang berpotensi terjadi kebakaran,” jelasnya.

 

Karhutla kembali terjadi pada 24 Agustus di Resort Rantau Jaya, wilayah Lampung Tengah. Beruntung, api dapat dikendalikan dengan cepat.

 

“Alhamdulillah tim kita bersama TNI dan Polri bertindak cepat. Tidak lama, sekitar tiga sampai empat jam sudah berhasil kita padamkan,” kata Zaidi.

 

Kebakaran di lokasi tersebut menghanguskan sekitar 6,2 hektare lahan.

 

Zaidi mengatakan kondisi lapangan menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla di TNWK. Sejumlah lokasi berada dalam kondisi sangat kering dengan sumber air yang terbatas.

 

“Lokasi yang terbakar memang daerah yang sumber airnya sedikit. Kondisinya sudah sangat kering. Sumber air yang kami dapat hanya dari sungai, sementara kawasan rawa juga sudah mengering,” ungkapnya.

 

Akses menuju titik api juga tidak mudah. Petugas yang biasanya menggunakan kendaraan operasional, termasuk mobil double cabin, harus menyeberangi sungai sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

 

Kondisi cuaca turut memperbesar risiko. Cuaca panas, lahan kering dan angin kencang membuat api pada vegetasi alang-alang bergerak cepat sehingga sulit dikejar petugas.

 

Pemadaman pada siang hari juga menghadapi kendala karena suhu di sekitar titik api sangat tinggi. Petugas kesulitan mendekati kobaran dari arah depan maupun belakang lantaran lidah api dan kepulan asap dapat membahayakan keselamatan.

 

Karena itu, tim lebih banyak mengoptimalkan pemadaman pada sore hingga malam hari ketika kondisi lapangan lebih memungkinkan.

 

Peralatan Pemadam Perlu Diperbarui

 

Selain kondisi medan, keterbatasan peralatan turut menjadi persoalan. TNWK memang memiliki sejumlah perangkat pemadam, tetapi sebagian membutuhkan peremajaan.

 

Zaidi mengungkapkan, pada hari pertama kebakaran pihaknya hanya memiliki satu unit alkon untuk mendukung proses pemadaman.

 

“Kemarin hari pertama kami hanya punya satu alkon. Itu sangat menyulitkan. Selang juga terbatas. Dari yang kami punya, sekarang yang tersisa sekitar 800 meter,” ungkapnya.

 

Menurut dia, karakter kebakaran di TNWK membutuhkan dukungan peralatan yang memadai, terutama karena sebagian titik api sulit dijangkau dan jauh dari sumber air.

 

Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Lampung. Zaidi mengatakan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal telah berkomunikasi dengan pihak TNWK dan memastikan peningkatan dukungan untuk kebutuhan penanganan karhutla.

 

“Alhamdulillah kami dibantu untuk persiapan ke depan. Peralatan, APD maupun yang lain-lain akan ditingkatkan,” terangnya.

 

Petakan Kembali Wilayah Rawan

 

Di sisi lain, TNWK mulai mengevaluasi dan memetakan kembali wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran.

 

Zaidi menyebut sejumlah kawasan seperti Susukan Baru, Rantau Jaya dan Toto Projo sebelumnya masuk kategori daerah rawan karhutla. Namun, kebakaran terbaru justru terjadi di lokasi yang sebelumnya tidak masuk dalam prediksi rawan.

 

“Yang kemarin terbakar ternyata tidak kita prediksi. Hampir dua tahun lokasi itu tidak pernah terbakar, sehingga sebelumnya memang tidak kita kategorikan sebagai daerah rawan,” jelasnya.

 

Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengelola TNWK untuk memperkuat sistem deteksi dini dan pencegahan.

Selain itu, kedekatan kawasan taman nasional dengan permukiman warga juga menjadi perhatian. Di sisi barat TNWK terdapat sekitar 38 desa penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi.

 

“Kalau penduduk buka pintu dapur, itu langsung terlihat kawasan. Jadi seterbuka itu,” ujar Zaidi menggambarkan dekatnya permukiman dengan kawasan TNWK.

 

Menurutnya, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api setelah kebakaran terjadi. Pencegahan harus diperkuat melalui edukasi, penyuluhan dan keterlibatan masyarakat di sekitar kawasan.

 

Dengan kondisi lahan yang semakin kering serta cuaca yang mudah berubah, kewaspadaan masyarakat dan petugas menjadi kunci untuk mencegah karhutla kembali meluas di kawasan TNWK.