Komisi V DPRD Lampung Soroti Pelayanan dan Tata Kelola RSUDAM

BANDAR LAMPUNG — Komisi V DPRD Provinsi Lampung turun langsung ke RSUD Abdul Moeloek (RSUDAM), Selasa (6/10/2026).

 

Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya legislatif memastikan pelayanan rumah sakit milik Pemprov Lampung berjalan optimal sekaligus mengevaluasi pembenahan tata kelola yang tengah dilakukan manajemen.

 

Ketua Komisi V DPRD Lampung Yanuar Irawan memimpin peninjauan bersama sejumlah anggota, di antaranya Deni Ribowo, Abdullah Surajaya, Puji Sartono, dan Ketut Romeo.

 

Rombongan diterima Direktur Utama RSUDAM Imam Ghozali beserta jajaran manajemen. Turut hadir Wakil Direktur Pendidikan, Pengembangan SDM dan Hukum Elitha M. Utari serta Wakil Direktur Umum dan Keuangan Hery Sadeli.

 

Dalam kunjungan itu, sejumlah aspek menjadi perhatian, mulai dari kualitas pelayanan pasien, sistem teknologi informasi, ketersediaan fasilitas hingga strategi pengembangan RSUDAM sebagai rumah sakit rujukan.

 

Yanuar menegaskan DPRD Lampung akan terus menindaklanjuti berbagai aspirasi dan keluhan masyarakat terkait pelayanan di RSUDAM.

 

Menurutnya, posisi RSUDAM sangat penting karena menjadi salah satu fasilitas kesehatan utama yang menjadi tumpuan masyarakat Lampung, termasuk warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan dukungan pemerintah daerah.

 

“RSUDAM ini milik kita bersama sehingga kita semua bertanggung jawab atas pengelolaannya. RSUDAM adalah wajah pelayanan kesehatan Provinsi Lampung, terutama bagi masyarakat yang tidak mampu,” kata Yanuar.

 

Salah satu pembahasan dalam pertemuan tersebut berkaitan dengan pengelolaan teknologi informasi di lingkungan RSUDAM, termasuk penggunaan jasa pihak ketiga.

 

Manajemen menjelaskan, perubahan pola pengelolaan dilakukan untuk memastikan kebutuhan pelaporan kepada pemerintah pusat maupun kebutuhan operasional internal rumah sakit dapat berjalan lebih optimal.

 

Sebelumnya, sebagian sistem dikelola secara internal. Namun, keterbatasan sumber daya manusia membuat rumah sakit kembali menggandeng pihak ketiga untuk menangani sejumlah kebutuhan teknologi.

 

Dari sisi pembiayaan, manajemen menyebut skema tersebut justru membuat penggunaan anggaran lebih efisien. Porsi anggaran untuk pihak ketiga yang sebelumnya berada di kisaran 2,5 persen kini turun menjadi sekitar 1,4 persen.

 

Selain itu, sejumlah perangkat teknologi, termasuk server dan peralatan pendukung, kini telah menjadi aset milik RSUDAM.

 

Komisi V juga melihat secara langsung sistem informasi yang digunakan rumah sakit. Sistem tersebut memungkinkan pemantauan kinerja pegawai dan pejabat secara terpusat serta dapat dipantau secara real-time.

 

Direktur IT SIM RSUDAM Sony menjelaskan, server rumah sakit saat ini telah terhubung dengan seluruh layanan dan masih memungkinkan untuk dikembangkan sesuai kebutuhan.

 

“Ini bisa di-upgrade. Untuk penyimpanan memorinya juga tidak akan hilang karena setelah 1×24 jam akan menyimpan sendiri,” ujar Sony.

 

Direktur Utama RSUDAM Imam Ghozali menekankan bahwa transformasi digital tidak boleh berhenti pada pembangunan sistem teknologi.

 

Menurutnya, digitalisasi harus berjalan bersamaan dengan pembenahan budaya kerja, termasuk bagaimana tenaga kesehatan berinteraksi dan memberikan pelayanan kepada pasien.

 

Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai modern order system, yakni konsep pelayanan yang diarahkan agar lebih humanis, berorientasi kepada pasien (patient-centered care), sekaligus mengutamakan keselamatan.

 

Dalam membangun budaya pelayanan tersebut, Imam juga mengangkat nilai kearifan lokal Lampung, yakni puakhi atau persaudaraan.

 

Ia meminta seluruh tenaga kesehatan memperlakukan pasien sebagaimana mereka memperlakukan anggota keluarga sendiri.

 

“Bayangkan kalau anak, istri, atau saudara kita sendiri yang masuk rumah sakit. Tentu kita ingin mereka mendapat pelayanan terbaik. Karena itu, saya minta seluruh hospitalist, siapa pun pasien yang datang, anggap dan layani mereka sebagai saudara sendiri,” kata Imam.

 

Pembenahan pelayanan juga diarahkan pada titik-titik yang berpotensi menimbulkan antrean dan memperpanjang waktu tunggu pasien.

 

Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), misalnya, manajemen menempatkan penanggung jawab serta perwakilan manajemen untuk mempercepat pengambilan keputusan ketika pasien membutuhkan kamar rawat inap ataupun rujukan.

 

Penjadwalan konsultasi dokter dan tindakan medis juga dibuat lebih fleksibel dengan mempertimbangkan kondisi masing-masing pasien.

 

Sementara pada layanan farmasi, digitalisasi mulai diterapkan untuk mengurangi kepadatan antrean sekaligus mempercepat proses pelayanan obat.

 

Langkah tersebut menjadi bagian dari pembenahan menyeluruh yang dilakukan RSUDAM untuk meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

 

Selain membenahi pelayanan yang sudah berjalan, RSUDAM juga mempersiapkan diri untuk memperkuat kapasitas sebagai rumah sakit rujukan di Provinsi Lampung.

 

Manajemen memilih memprioritaskan penguatan layanan medis dasar dan spesialis sebelum melakukan ekspansi fisik dalam skala besar.

 

Sejumlah pengembangan fasilitas ditargetkan mulai beroperasi pada 2027. Salah satunya penguatan layanan onkologi terpadu melalui pembangunan bunker dan fasilitas radioterapi.

 

RSUDAM juga menyiapkan pengembangan pain clinic atau klinik khusus penanganan nyeri.

 

Dalam pembangunan maupun pengadaan fasilitas, manajemen memastikan seluruh proses dilakukan melalui mekanisme pengadaan barang dan jasa pemerintah. Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga transparansi serta akuntabilitas penggunaan anggaran.

 

Usai mendengarkan pemaparan manajemen, Komisi V DPRD Lampung bersama jajaran RSUDAM kemudian meninjau sejumlah ruang pelayanan dan fasilitas pendukung.

 

Peninjauan lapangan dilakukan untuk melihat langsung kondisi fasilitas sekaligus menginventarisasi kebutuhan sarana dan prasarana yang masih membutuhkan dukungan anggaran pemerintah daerah.

 

Bagi DPRD Lampung, pembenahan RSUDAM bukan hanya menyangkut pembangunan fisik dan teknologi. Kualitas pelayanan kepada pasien menjadi salah satu indikator penting yang harus terus diperhatikan.

 

Kunjungan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memastikan setiap pembenahan yang dilakukan rumah sakit benar-benar bermuara pada peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Lampung.