Gubernur Mirza Ajak Warga Muhasabah Lewat Salat Istisqa

Bandar Lampung — Provinsi Lampung tengah menghadapi ujian alam secara beruntun. Mulai dari kemarau panjang yang menahan turunnya hujan, hingga erupsi abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau.

 

Menanggapi fenomena ini, Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya bersandar pada upaya fisik, tetapi juga melakukan refleksi spiritual yang mendalam.

 

Dalam sambutannya saat memimpin pelaksanaan Salat Istisqa (salat minta hujan), Gubernur menyampaikan pesan yang menyentuh hati. Ia menyebut bahwa rentetan bencana alam ini bisa jadi merupakan teguran dari Sang Pencipta.

 

“Erupsi sebaran abu vulkanik dan tertahannya tetesan air hujan dari langit adalah teguran atas kelalaian kita, atas dosa-dosa kita, atau mungkin karena kita yang kurang bersyukur dan kurang peduli terhadap alam semesta,” ungkap Mirza di hadapan para jemaah.

 

Lebih lanjut, Gubernur menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Lampung tidak tinggal diam. Berbagai langkah mitigasi telah dan terus dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak.

 

Mulai dari penanganan dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau, penanggulangan kekeringan, pencegahan kebakaran lahan, hingga penyebaran imbauan kesehatan kepada masyarakat secara masif telah diupayakan sebagai bentuk ikhtiar lahiriah.

 

Namun, Mirza mengingatkan bahwa sebesar apa pun upaya pemerintah dan masyararat, manusia pada hakikatnya memiliki keterbatasan mutlak di hadapan Tuhan.

 

Mengutip ayat suci Al-Qur’an, Gubernur memberikan penekanan spiritual.

 

“Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 28 bahwa manusia diciptakan dalam keadaan yang lemah. Dan dalam Surah Al-Insan ayat 30 ditegaskan, kita tidak dapat menghendaki sesuatu kecuali apabila dikehendaki oleh Allah,” jelasnya.

 

Pesan ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap usaha keras manusia, hasil akhir dan takdir sepenuhnya berada di bawah kehendak dan kuasa Allah SWT.

 

Di penghujung pernyataannya, Mirza menggarisbawahi makna sebenarnya dari pelaksanaan Salat Istisqa. Ia berharap masyarakat tidak hanya memaknai ritual tersebut secara harfiah.

 

“Salat Istisqa yang kita laksanakan hari ini bukan semata-mata tentang memohon turunnya hujan. Ini adalah momen bagi kita untuk menundukkan hati, memperbanyak istigfar, dan memohon ampun atas segala kekhilafan,” tuturnya.

 

Gubernur menutup pesannya dengan seruan agar momentum krisis ini dijadikan titik tolak untuk memperkuat ketakwaan, memperbaiki amal perbuatan, serta memulihkan hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta dan alam semesta.

 

“Kita telah berusaha sebaik-baiknya, kita berdoa dengan sungguh-sungguh, dan kini kita serahkan hasilnya kepada Allah SWT. Karena Dialah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap hamba-Nya,” pungkas Rahmat Mirzani.

 

Melalui Salat Istisqa ini, Pemprov Lampung berharap hujan keberkahan segera turun, menyapu abu vulkanik, membasahi lahan yang mengering, dan membawa kesejukan bagi seluruh masyarakat di Bumi Ruwa Jurai.