Sekolah di Lampung Kembali Tatap Muka, Siswa Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Kelas

Bandar Lampung — Pemerintah Provinsi Lampung kembali membuka pembelajaran tatap muka di seluruh satuan pendidikan mulai Jumat (11/9/2026). Kebijakan ini diambil setelah sebelumnya sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) dan sebaran abu vulkanik.

 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengatakan pembelajaran tatap muka kembali berlangsung berdasarkan arahan Gubernur Lampung. Namun, sekolah wajib menjalankan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

 

“Mulai besok kami kembali melakukan pembelajaran secara tatap muka sesuai dengan arahan Pak Gubernur,” kata Thomas di Pusdalops BPBD Lampung, Kamis (10/9/2026).

 

Sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, sekolah diminta menggelar doa bersama dan salat Istisqa secara berjamaah. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar agar hujan segera turun sekaligus memohon keselamatan bagi masyarakat di tengah kondisi kemarau dan aktivitas GAK.

 

“Dalam proses pembelajaran tatap muka diawali dengan doa bersama, salat Istisqa bersama berjamaah di satuan pendidikan masing-masing untuk berdoa. Mudah-mudahan kejadian hari ini terkait dengan erupsi, kemudian kemarau, mudah-mudahan kita berdoa segera diturunkan hujan,” ujarnya.

 

Setelah itu, sekolah harus memastikan seluruh lingkungan belajar bebas dari abu vulkanik. Guru, petugas kebersihan, dan pihak sekolah diminta mengecek ruang kelas serta halaman sebelum siswa memulai kegiatan belajar.

 

Thomas menilai pembersihan tersebut penting untuk mencegah siswa dan guru terpapar abu vulkanik yang kemungkinan masih menempel di lingkungan sekolah.

 

“Setelah dilaksanakan salat Istisqa, nanti satuan pendidikan kembali bersama para siswa dan para guru memastikan petugas kebersihan untuk mengecek kembali lingkungan kelas dan lingkungan sekolah benar-benar steril dan bersih,” jelasnya.

 

Menurut Thomas, kondisi ruang kelas yang bersih menjadi salah satu syarat agar pembelajaran tatap muka berjalan aman dan nyaman. Ia meminta sekolah memastikan tidak ada lagi abu vulkanik yang berpotensi terhirup siswa maupun guru.

 

“Sehingga proses pembelajaran secara tatap muka bisa dilaksanakan dengan nyaman. Abu vulkanik dipastikan tidak lagi ada di dalam kelas maupun lingkungan sekolah, sehingga anak-anak betul tidak terkontaminasi oleh abu vulkanik,” lanjutnya.

 

Meski sekolah kembali dibuka, kewaspadaan tetap harus ditingkatkan. Thomas meminta guru dan siswa mengurangi aktivitas di luar kelas selama kondisi erupsi GAK masih berlangsung.

 

“Selama proses pembelajaran, kami minta satuan pendidikan, baik itu guru dan siswa, menghindari atau mengurangi kegiatan di luar kelas,” katanya.

 

Selain membatasi kegiatan luar ruangan, sekolah diminta tetap menjaga protokol kesehatan. Guru dan siswa juga harus memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing sebagai langkah antisipasi terhadap dampak abu vulkanik.

 

“Kemudian juga menjaga atau mematuhi protokol kesehatan untuk bagaimana kita meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan kita,” pungkas Thomas.

 

Dengan kebijakan tersebut, pembelajaran di Lampung kembali berlangsung secara langsung setelah sempat menerapkan PJJ. Meski begitu, sekolah tetap wajib mengutamakan aspek keselamatan melalui pembersihan abu vulkanik, pembatasan aktivitas luar ruangan, serta penerapan protokol kesehatan.