Erupsi Gunung Anak Krakatau Berdampak ke Kesehatan, Kasus ISPA di Tanggamus Melonjak

Bandar Lampung — Peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) sejak 5 September 2026 mulai berdampak terhadap kesehatan masyarakat di sejumlah wilayah Lampung.

 

Pemerintah Provinsi Lampung mencatat adanya indikasi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik.

 

Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengatakan, dampak abu vulkanik kini menjadi salah satu perhatian utama pemerintah. Selain mengganggu kualitas udara, paparan abu juga berpotensi menimbulkan gangguan pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.

 

Hal tersebut disampaikan Jihan dalam konferensi pers di Command Center BPBD Lampung, Senin (7/9/2026) siang.

 

“Perhatian kami juga mulai semakin besar terhadap dampak abu vulkanik bagi masyarakat, terutama terkait kualitas udara dan potensi gangguan kesehatan,” kata Jihan.

 

Pemprov Lampung saat ini masih mengumpulkan data kesehatan dari sejumlah wilayah yang terdampak. Pemerintah daerah masih melakukan inventarisasi sambil menunggu finalisasi format pendataan terpusat dari Kementerian Kesehatan.

 

Meski demikian, laporan sementara dari Kabupaten Tanggamus menunjukkan adanya peningkatan cukup tajam terhadap kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan.

 

Pada 5 September, tercatat 52 kunjungan. Sebanyak 46 kunjungan di antaranya berkaitan dengan ISPA.

 

Jumlah tersebut meningkat signifikan sehari kemudian. Pada 6 September, kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan mencapai 158 orang, dengan 76 kasus tercatat sebagai ISPA.

 

“Ini menunjukkan adanya tren kenaikan yang cukup signifikan di Kabupaten Tanggamus. Untuk daerah lainnya sedang terus kami himpun datanya,” ujar Jihan.

 

Abu Vulkanik Mengandung Partikel Halus

 

Selain memantau perkembangan kasus kesehatan, Pemprov Lampung melakukan pemeriksaan terhadap sampel abu vulkanik melalui Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).

 

Hasil pemeriksaan menunjukkan abu vulkanik memiliki ukuran partikel sekitar 5 hingga 10 mikrometer. Partikel tersebut memiliki permukaan tidak beraturan dan cenderung tajam.

 

Kondisi itu membuat masyarakat perlu berhati-hati karena abu dapat mengiritasi saluran pernapasan apabila terhirup. Paparan juga berpotensi mengganggu mata dan kulit.

 

“Partikel seperti ini perlu sangat diwaspadai karena dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan, mata, maupun kulit,” jelas Jihan.

Pemerintah juga terus memantau kualitas udara di wilayah yang terdampak.

 

Di Bandar Lampung, hasil pemantauan pada 5 hingga 6 September menunjukkan konsentrasi sulfur dioksida (SO2) berada pada kisaran 212 hingga 224 mikrogram per meter kubik.

 

Pemantauan kualitas udara akan terus dilakukan bersamaan dengan perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

 

GAK Masih Berstatus Siaga

 

Sementara itu, aktivitas Gunung Anak Krakatau hingga Senin (7/9/2026) masih berfluktuasi. Kendati secara visual kondisi gunung sempat terlihat tenang, aktivitas vulkanik di dalam gunung masih berlangsung.

 

Status GAK masih berada pada Level 3 atau Siaga.

Berdasarkan pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tercatat sembilan kali gempa harmonik, 17 kali gempa frekuensi rendah, dua kali gempa fase banyak atau vulkanik dalam, serta satu kali tremor menerus.

 

Pada periode 00.00 hingga 06.00 WIB, tercatat dua kali gempa bumi dengan magnitudo sekitar 3.

Secara visual, Gunung Anak Krakatau tertutup kabut sehingga belum dapat diamati secara langsung. Namun, berdasarkan citra satelit Himawari 9 pukul 10.00 WIB, belum terdeteksi adanya awan panas dari gunung tersebut.

 

Fasilitas Kesehatan Diminta Siaga

 

Mengantisipasi kemungkinan meningkatnya gangguan kesehatan, Pemprov Lampung meminta puskesmas dan rumah sakit, khususnya yang berada di wilayah lebih dekat dengan Gunung Anak Krakatau, memperkuat kesiapsiagaan.

 

Kesiapan meliputi tenaga medis, obat-obatan, bahan medis habis pakai, persediaan oksigen hingga mekanisme rujukan pasien.

 

Jihan meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap waspada terhadap paparan abu vulkanik.

Warga yang berada di wilayah terdampak dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah.

 

Jika terpaksa keluar, masyarakat diminta mengenakan masker, pakaian lengan panjang dan kacamata pelindung.

 

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki riwayat gangguan pernapasan.

 

“Segera ke fasilitas kesehatan terdekat apabila Anda mengalami sesak napas,” tegas Jihan.

 

Masyarakat juga diminta menutup pintu dan jendela selama paparan abu berlangsung.

 

Saat membersihkan abu yang menempel, warga sebaiknya tidak menyapunya dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup.

 

Pemprov Lampung memastikan pemantauan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau dan dampaknya akan terus dilakukan. Informasi terbaru akan disampaikan melalui kanal resmi pemerintah.

 

Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai ataupun menyebarluaskan informasi mengenai aktivitas GAK yang belum terverifikasi.