Bandar Lampung — Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mencatat 6.671 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode 4-8 September 2026. Lonjakan tersebut menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).
Paparan abu vulkanik dari aktivitas erupsi GAK berpotensi memicu gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Karena itu, pemerintah daerah memperkuat pemantauan kesehatan di seluruh wilayah Lampung.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Lampung, dr. Djohan Lius, mengatakan angka tersebut merupakan hasil pemantauan kesehatan pada 15 kabupaten/kota.
“Berdasarkan data pemantauan penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB), total kasus ISPA tercatat sebanyak 6.671 kasus,” kata Djohan saat memberikan keterangan di Pusdalops BPBD Lampung.
Kasus harian tertinggi tercatat pada 7 September 2026. Pada hari tersebut, jumlah penderita ISPA mencapai 1.993 kasus.
Selain ISPA, Dinkes Lampung menemukan 236 kasus influenza-like illness (ILI) dan 58 kasus pneumonia dalam periode pemantauan yang sama.
Sejumlah keluhan kesehatan lain juga ikut terpantau. Dinkes mencatat 250 kasus gangguan kulit seperti gatal dan kudis, 219 kasus Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), 194 kasus sakit mata, 182 kasus asma, serta 40 kasus heat stroke.
Djohan mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran sebagai langkah antisipasi dampak erupsi Gunung Anak Krakatau terhadap kesehatan masyarakat.
Surat tersebut menjadi acuan bagi fasilitas pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kesiapsiagaan apabila terjadi peningkatan kasus akibat paparan abu vulkanik.
“Kami telah membagi 15 kabupaten/kota dalam lima regional sistem rujukan. Setiap fasilitas kesehatan di kabupaten/kota meningkatkan kesiapannya, mulai dari puskesmas pembantu, puskesmas, hingga rumah sakit umum daerah,” jelasnya.
Dalam skema tersebut, lima rumah sakit daerah ditetapkan sebagai pusat rujukan regional. Rumah sakit itu yakni RS A. Dadi Tjokrodipo Bandar Lampung, RS Pringsewu, RS Alimuddin Umar Lampung Barat, RSUD Menggala Tulang Bawang, dan RSU Ahmad Yani Metro.
Untuk jenjang rujukan tertinggi, Dinkes Lampung menyiapkan tiga rumah sakit milik Pemprov Lampung. Ketiganya yakni RS Bandar Negara Husada, RS Abdoel Moeloek, dan RS Alamsyah Ratu Perwiranegara.
Penguatan kesiapsiagaan juga dilakukan melalui surveillance kesehatan. Petugas terus memantau perkembangan sejumlah penyakit yang berpotensi meningkat akibat dampak erupsi.
Djohan menjelaskan pemantauan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama mencakup penyakit yang berpotensi menular, seperti ISPA, ILI, dan pneumonia.
Sementara kelompok kedua mencakup penyakit yang dapat muncul atau memburuk akibat paparan abu vulkanik, tetapi tidak menular. Di antaranya asma, gangguan kulit, sakit mata, dan PPOK.
“Kami terus memantau angka-angka kesakitan untuk penyakit-penyakit yang terdampak. Ini penting untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah yang terdampak,” ujarnya.
Upaya kesiapsiagaan juga diperkuat melalui kunjungan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela ke sejumlah daerah yang terdampak aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Jihan meninjau wilayah Lampung Selatan pada 6 September 2026. Dua hari kemudian, peninjauan dilanjutkan ke Kabupaten Pesawaran.
Dalam kunjungan tersebut, bantuan untuk mendukung pelayanan kesehatan turut disalurkan. Bantuan itu berupa masker, oksigen konsentrator, hingga alat pelindung diri (APD) atau hazmat.
“Bantuan tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan dan petugas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak paparan abu vulkanik,” sambung Djohan.
Jihan juga mengecek pelayanan kesehatan di sejumlah puskesmas. Selain memastikan layanan tetap berjalan, petugas kesehatan diingatkan menjaga kondisi fisik selama menangani dampak erupsi.
“Petugas kesehatan juga harus memperhatikan kesehatan diri. Jangan sampai petugas kelelahan kemudian sakit dan akhirnya mengganggu pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Dinkes Lampung memastikan pemantauan kesehatan masyarakat akan terus dilakukan mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap waspada. Warga yang berada di wilayah dengan potensi paparan abu vulkanik juga dianjurkan menggunakan masker serta mengikuti informasi resmi pemerintah dan instansi berwenang.
