Bandar Lampung – Sektor pariwisata Provinsi Lampung ibarat raksasa yang tengah tertidur.
Meski menyumbang perputaran uang hingga Rp55 triliun atau 9,4 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), potensinya diyakini masih bisa melesat jauh. Syaratnya satu: membuat wisatawan betah berlama-lama, bukan sekadar ‘numpang lewat’.
Hal inilah yang menjadi sorotan utama Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal saat memaparkan visi besarnya dalam Seminar Nasional
“Wujudkan waterfront City untuk Lampung Maju” di Swiss-Belhotel, Kamis (20/8/2026).
Mirza menyoroti sebuah fenomena menarik sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi pariwisata Lampung. Saat ini, wisatawan nusantara rata-rata hanya menghabiskan uang sekitar Rp2 juta dengan lama tinggal 1,3 hari.
Di destinasi unggulan seperti Lampung Selatan dan Pesawaran, turis bahkan kerap hanya singgah selama empat jam sebelum akhirnya kembali ke Bandar Lampung untuk tidur, lalu pulang.
“Jadi cuma numpang, lihat-lihat, foto-foto, lalu balik lagi. Mengapa? Karena experience (pengalaman wisata) yang ditawarkan belum maksimal. Ini masalah utama kita,” papar Gubernur Mirza.
Potensi Ekonomi Rp100 Triliun Jika Wisatawan Betah menurut Mirza, kunci mendongkrak ekonomi pariwisata Lampung bukanlah semata-mata pada jumlah kunjungan, melainkan durasi menetap ( length of stay ).
Hitung-hitungannya pun sangat menjanjikan. Jika durasi tinggal wisatawan naik sedikit saja dari 1,3 hari menjadi 1,5 hari, perputaran ekonomi pariwisata diyakini melonjak ke angka Rp70 triliun.
“Kalau kita bisa tahan mereka sampai dua hari penuh, nilainya tembus Rp100 triliun! Inibisa jadi mesin pertumbuhan ekonomi yang luar biasa bagi Lampung,” tegasnya antusias.
Strategi Trisula Pariwisata dan Menghidupkan Waterfront City untuk mewujudkan mimpi Rp100 triliun tersebut, Pemprov Lampung tidak bisa lagi bekerja secara konvensional.
Dibutuhkan rekayasa kawasan terintegrasi yang mampu menawarkan ragam pengalaman wisata yang kaya.
Mirza membeberkan strategi ‘trisula’ penataan kawasan wisata: Lampung Selatan akan dirancang menjadi kawasan pariwisata eksklusif ala ITDC, Pesawaran difokuskan sebagai kawasan wisata terpadu, dan puncaknya adalah mahakarya penataan pesisir ibu kota melalui konsep Waterfront City Bandar Lampung.
Konsep Waterfront City sebenarnya bukan barang baru; wacananya sudah mengendap selama 15 tahun.
Namun, merealisasikannya butuh keberanian ekstra karena pesisir Bandar Lampung adalah kawasan yang sangat kompleks.
Di sana berkumpul area industri, pelabuhan Pelindo, permukiman warga dan nelayan, hingga zona vital ekosistem mangrove dan Pulau Pasaran.
“Penataan ini mustahil dilakukan oleh Pemkot Bandar Lampung sendirian. Apalagi aset lahan Pemkot di kawasan pesisir itu hanya sekitar 1,5 hektare. Kita butuh kolaborasi tingkat dewa antara Pemprov, Pemkot, BUMN, swasta, hingga masyarakat,” jelas Mirza.
Karpet Merah untuk Investor dan Syarat Mutlak Pembangunan menyadari keterbatasan anggaran pemerintah, Mirza membuka pintu lebar-lebar bagi pihak swasta untuk menjadi motor penggerak pembangunan Waterfront City.
Agar investor tertarik menanamkan modalnya—baik untuk membangun hotel, pusatpL perbelanjaan, maupun fasilitas hiburan—pemerintah siap memberikan ‘karpet merah’.
Salah satunya, Pemkot Bandar Lampung telah menyiapkan insentif berupa diskon pajak Bumi dan Bangunan (PBB) sebesar 30 hingga 50 persen.
Ke depan, kawasan ini juga didorong untuk mendapat status Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agar banjiri nsentif pajak.
