Bandar Lampung – Institut Teknologi Sumatera (Itera) resmi membentuk Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai bagian dari komitmen menciptakan lingkungan perguruan tinggi yang inklusif dan ramah bagi mahasiswa penyandang disabilitas.
Peluncuran ULD Itera berlangsung di Aula Gedung Kuliah Umum 2. Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND) Dr. Dante Rigmalia, serta sejumlah pimpinan ULD dari perguruan tinggi di Lampung.
Rektor Itera yang diwakili Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Hadi Teguh Yudistira mengatakan kehadiran ULD menjadi bagian dari upaya Itera menjalankan amanat pemerintah dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif.
Menurut Hadi, pemerintah telah menetapkan sejumlah parameter dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif. Parameter tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga memastikan terpenuhinya hak penyandang disabilitas untuk memperoleh akses pendidikan.
“Kehadiran layanan disabilitas ini diharapkan menjadi pemicu bagi Itera untuk terus mengembangkan dan meningkatkan penyelenggaraan pendidikan yang inklusif,” ujarnya.
Ia menegaskan Itera akan terus berupaya menyediakan fasilitas dan layanan yang mampu menjawab kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas.
Dengan begitu, seluruh mahasiswa diharapkan dapat mengikuti proses pendidikan secara setara tanpa menghadapi hambatan yang tidak semestinya.
Peluncuran ULD Itera juga menjadi momentum memperkuat jejaring antarperguruan tinggi dalam mengembangkan layanan bagi penyandang disabilitas.
Hal itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Itera dan Unit Layanan Disabilitas Universitas Muhammadiyah Lampung.
Kerja sama tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan layanan, pendampingan, serta penyelenggaraan pendidikan yang semakin inklusif.
Dalam sesi materi, Ketua Komisi Nasional Disabilitas, Dante Rigmalia memaparkan pentingnya perlindungan dan pemenuhan hak penyandang disabilitas untuk mendapatkan pendidikan tinggi.
Dante menjelaskan berbagai tugas KND sekaligus persoalan yang masih dihadapi penyandang disabilitas dalam mengakses hak pendidikan.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memastikan tidak ada mahasiswa penyandang disabilitas yang terhambat memperoleh pendidikan karena keterbatasan akses maupun dukungan.
Sementara itu, Ketua ULD Universitas Muhammadiyah Lampung Ratna Tri Utami, menjelaskan bahwa ULD memiliki peran strategis dalam memberikan pendampingan dan dukungan kepada mahasiswa penyandang disabilitas.
Pendampingan tersebut diperlukan agar mahasiswa dapat mengikuti kegiatan akademik dan kehidupan kampus secara optimal, sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Ketua ULD Itera, Winati Nurhayu menambahkan peningkatan kesadaran tenaga pendidik menjadi salah satu hal penting dalam membangun kampus yang benar-benar inklusif.
Ia menilai dosen di setiap program studi perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi dan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas.
Kepekaan tersebut diperlukan agar proses pembelajaran dapat disesuaikan sehingga mahasiswa mampu memahami materi dan mengikuti kegiatan akademik dengan baik.
“Tenaga pendidik perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi dan kebutuhan mahasiswa disabilitas, termasuk dalam membantu mahasiswa memahami proses pembelajaran,” kata Winati.
Menurutnya, keberadaan ULD bukan hanya soal menyediakan layanan, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang memberikan kesempatan setara bagi seluruh mahasiswa.
