Disperindag Sebut Distribusi Minyakita Mulai Kembali Normal

Bandar Lampung (Lampost.co) — Pemerintah Provinsi Lampung bergerak cepat mengintervensi lonjakan harga minyak goreng Minyakita dengan menggelar operasi pasar di Pasar Untung Suropati Bandar Lampung serta sejumlah pasar tradisional lainnya di 15 kabupaten/kota.

 

Langkah tersebut dilakukan setelah harga Minyakita di Pasar Untung Suropati sempat menembus Rp21 ribu per liter, jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp15.700 per liter.

 

Kondisi itu memicu keluhan masyarakat, khususnya pelaku usaha kecil dan rumah tangga.

 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, M. Zimmi Skil, mengatakan Minyakita sejatinya berfungsi sebagai penyeimbang harga minyak goreng di pasaran.

 

Ia menjelaskan, produk tersebut berasal dari perusahaan eksportir crude palm oil (CPO) dan turunannya yang memiliki kewajiban menyediakan Minyakita sesuai ketentuan pemerintah.

 

“Minyak Kita itu sebagai penyeimbang harga minyak goreng. Sesuai Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 43 Tahun 2025, Minyak Kita didistribusikan di pasar dan bukan untuk bantuan pangan,” ujar Zimmi Skil.

 

Menurutnya, distribusi Minyakita ke pasar sempat terganggu karena digunakan dalam program bantuan pangan pemerintah pada beberapa periode di tahun 2025.

 

Saat itu, bantuan pangan yang sebelumnya berupa beras 10 kilogram ditambah minyak goreng menggunakan Minyakita sebanyak empat liter untuk masyarakat di seluruh Indonesia.

 

“Maka minyak goreng sebenarnya tidak langka, tetapi Minyak Kita sempat distop distribusinya ke pasar. Akibatnya tidak ada lagi penyeimbang harga minyak goreng di pasar,” jelasnya.

 

Ia berharap penghentian penggunaan Minyakita untuk bantuan pangan dapat membuat distribusi ke pasar kembali normal sehingga harga dapat terkendali.

 

“Insyaallah dengan penyetopan bantuan pangan menggunakan Minyak Kita, distribusi Minyak Kita ke pasar mulai kembali on track,” katanya.

 

Untuk menekan harga di pasaran, Pemprov Lampung bersama pemerintah kabupaten/kota berkolaborasi mendistribusikan Minyakita secara serentak melalui operasi pasar.

 

Sebanyak satu juta liter Minyakita diminta kepada Bulog untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Lampung.

 

“Kami bersama 15 kabupaten/kota bergerak mengintervensi pasar dengan distribusi serentak satu juta liter Minyak Kita agar harga minyak goreng kembali stabil,” ungkapnya.

 

Zimmi menambahkan, hasil pemantauan selama operasi pasar pada Mei 2026 menunjukkan harga Minyakita di sejumlah pasar sudah berada di bawah HET.

 

“HET Minyak Kita Rp15.700, tetapi di pasar-pasar pantauan SP2KP saat ini sudah berada di kisaran Rp15.500. Mudah-mudahan harga minyak dari luar Provinsi Lampung juga ikut tertekan dan mengikuti HET,” ujarnya.

 

Sementara itu, warga Bandar Lampung bernama Sodik mengaku terbantu dengan operasi pasar yang digelar pemerintah. Ia mengatakan harga Minyakita yang dijual dalam operasi pasar jauh lebih murah dibanding harga sebelumnya di pasaran.

 

“Hari ini beli Minyakita ukuran dua liter harganya Rp31 ribu, alhamdulillah sangat membantu. Kita kan orang dagang,” kata Sodik.