Bandar Lampung – Sebanyak 111.165 peserta didik jenjang SMA, SMK, SLB, hingga Paket C di Provinsi Lampung akan mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026.
Menghadapi pelaksanaan tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung meminta sekolah memaksimalkan persiapan siswa.
Penguatan materi pembelajaran, pendampingan mentor, hingga latihan menggunakan bank soal menjadi sejumlah langkah yang didorong untuk dilakukan secara rutin.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, mengatakan mekanisme TKA tahun ini secara umum tidak mengalami perubahan besar dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
Menurut Thomas, ujian akan dilaksanakan dalam beberapa tahapan. TKA reguler gelombang pertama berlangsung pada 26-29 Oktober 2026. Selanjutnya, gelombang kedua dijadwalkan pada 2-5 November 2026.
Sementara itu, TKA khusus mata pelajaran wajib dilaksanakan pada 31 Oktober-1 November. Adapun tes untuk mata pelajaran pilihan dijadwalkan pada 7-8 November 2026.
“Selain itu, terdapat pelaksanaan TKA khusus untuk mata pelajaran wajib yang dijadwalkan pada 31 Oktober-1 November, serta TKA khusus mata pelajaran pilihan pada 7-8 November,” ujar Thomas, Rabu (23/9/2026).
Dengan jumlah peserta yang cukup besar, Thomas meminta sekolah tidak melakukan persiapan secara mendadak. Pembinaan dan latihan perlu dilakukan sejak jauh-jauh hari agar siswa lebih siap menghadapi tes.
“Kita berharap sekolah segera melatih dengan bank soal dan menyiapkan materi. Kemudian anak-anak juga dipersiapkan bagaimana mereka bisa belajar dengan giat, sehingga nanti Lampung hasil TKA-nya baik,” katanya.
Ia menilai kesiapan menghadapi TKA tidak hanya ditentukan dari kemampuan siswa dalam menjawab soal. Proses pembelajaran dan pendampingan yang diberikan sekolah juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan peserta didik.
Karena itu, sekolah diminta menyiapkan mentor dan pemateri yang dapat mendampingi siswa secara terarah. Latihan soal juga perlu dilakukan secara berkala agar siswa terbiasa menghadapi berbagai tipe pertanyaan.
“Tahun ini kita lebih konsen, lebih fokus untuk bagaimana sekolah-sekolah menyiapkan para mentor, kemudian juga pemateri, serta menyiapkan bank soal untuk diuji dan dilatih secara rutin kepada anak didik kita,” ucap Thomas.
Ia berharap pola latihan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu siswa mengenali kemampuan akademiknya sekaligus meningkatkan kesiapan ketika mengikuti TKA.
“Sehingga nanti pada saat TKA mereka mampu mengerjakannya, kemudian dengan diiringi doa dan ikhtiar. Sehingga nanti sukses Lampung pada saat pelaksanaan TKA,” ujarnya.
Thomas menegaskan TKA tidak semata-mata menjadi sarana untuk menguji kemampuan siswa dalam mengerjakan soal. Hasil tes juga dapat memberikan gambaran mengenai dampak proses pembelajaran yang telah diterima peserta didik selama masa pendidikan.
“TKA ini sebenarnya menguji kemampuan, bagaimana pembelajaran itu berdampak. Apakah hasilnya maksimal atau tidak,” jelasnya.
Menurut dia, hasil TKA dapat menunjukkan capaian kognitif setiap siswa. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk melihat efektivitas pembelajaran yang telah berjalan selama tiga tahun sekaligus menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan ke depan.
“Artinya kita mengukur capaian kognitif masing-masing siswa, sehingga selama tiga tahun itu prosesnya bagus atau tidak. Sehingga menjadi bahan evaluasi kita, bagaimana proses pembelajaran di masa depan supaya lebih meningkatkan mutu dan kualitasnya,” katanya.
Thomas berharap hasil TKA nantinya tidak berhenti sebagai catatan capaian akademik siswa. Data tersebut dapat dimanfaatkan sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan untuk mengevaluasi sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran.
Ia pun mengajak sekolah, guru, mentor, orang tua, dan siswa berperan bersama dalam menghadapi pelaksanaan TKA. Persiapan dapat dilakukan melalui penguatan materi, pembelajaran yang konsisten, latihan soal berkala, serta pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Hasil TKA nantinya diharapkan menjadi salah satu pijakan dalam mengevaluasi proses pembelajaran. Dengan demikian, perbaikan mutu dan kualitas pendidikan di Lampung dapat dilakukan secara berkelanjutan.
